Showing posts with label Krize 2006. Show all posts
Showing posts with label Krize 2006. Show all posts

Thursday, 29 December 2011

INTROSPEKSI DIRI SEBELUM MENJADI PRESIDEN REPUBLIK


Melengkapi Artikel  Dr. Armindo “Mauk-Sun” Guterres dan
Dr. Joanico Moreira
 
 
Alfredo “Mau-Redo” Ramos da Silva
 
 
Demokrasi di Timor Leste kini tumbuh sangat subur bagaikan rumput dan jamur di musim hujan. Kita dapat melihat indikasi suburnya demokrasi di bumi Lorosae dari kualitas pemilihan umum yang semakin berkembang, tingginya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilu, oposisi diakui secara resmi, media sangat kritis dan independen, banyaknya partai politik yang dilahirkan dan banyaknya kandidat Presiden Republik sejak pemilihan presiden 2007 dan juga pasti pada 2012 mendatang. Saat ini diberitakan bahwa sudah ada 22 partai politik dan sekitar 7-14 kandidat yang akan memperebutkan posisi Presiden Republik. Saking banyaknya Partai Politik ini sehingga Dr. Ramos Horta sebagai Presiden Republik dan juga pribadi menghimbau kepada masyarakat untuk tidak memilih partai-partai kecil dan menghimbau juga supaya negara tidak menyediakan anggaran untuk partai-partai kecil yang baru lahir. Walaupun saya sebagai rakyat tidak setuju dengan pendapat itu tetapi biarkanlah wacara atau diskursus PR Horta ini berjalan dan mengalir.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas terlalu jauh banyaknya partai politik tetapi tulisan ini akan fokus pada kandidat yang menurut beberapa pihak memiliki peluang besar pada persaingan pemilihan Presiden Republik 2012 nanti. Tulisan ini hanya akan melengkapi tulisan Dr. Armindo “Mauk-Sun” Guterres dalam Forum Hakesuk mengenai Taur Matan Ruak dan Lasama.  Saya memilih figur Lasama ini karena terinspirasi dan terprovokasi oleh beberapa tulisan yang ditulis  Dr. Jose Maria Guterres dengan judul “TL-1 dan Berkah Xanana Gusmao” dan juga tanggapannya Dr. Joanico Moreira terhadap tulisan Dr. Jose Maria Guterres tersebut diatas, yang mana dalam tanggapannya Dr. Joanico Moreira condong membela Lasama, dan sebuah tulisan terakhir yang ditulis oleh Dr. Armindo “Mauk-Sun” Guterres di Forum Haksesuk yang juga jelas sekali condong membela Lasama. Dr. Amindo “Mauk-Sun” Guterres dalam tulisannya di Forum Haksesuk hanya mengungkap  kelemahan Taur Matan Ruak dan LUGU dan tidak menyinggung sedikitpun kelemahan Lasama maka saya hendak memperlihatkan dalam tulisan ini beberapa saja  kelemahan Lasama untuk melengkapi tulisan Dr. Armindo “Mauk-Sun” Guterres supaya menjadi bahan refleksi bagi Fernando Lasama de Araujo. Umpamanya dikatakan bahwa kelemahan Taur Matan Ruak adalah tidak bisa menerima kritik, kurang peka terhadap masalah persatuan, diskriminatif. Bahkan pada tulisan tangapan terhadap artikel Dr. Jose Maria Guterres, Dr. Joanico mengatakan bahwa Taur berasal dari suku Naueti dan Lasama dari suku Mambae. Dr. Armindo “Mauk-Sun” Guterres juga dengan dangkalnya mengatakan bahwa; Ada indikasi CNRT lebih condong ke Taur Matan Ruak, tetapi mereka juga harus berhati-hati karena mereka juga masih ingin memerintah. Perhitungan rasional bila ingin mengamankan pembentukan sebuah pemeritahan koalisi maka dukungan Xanana dan CNRT kepada Lasama adalah lebih rasional, sebab kekuatan PD adalah nyata, mereka mempunyai 8 wakil de Parlamen Nasional dan pada Kongres Nasional ke II, PD mampu menggerakan 7.000 orang lebih ke GMT. Diperkirakan suara PD akan bertambah dan akan sangat menentukan pembentukkan sebuah pemerintah koalisi ada indikasi” Perkiraan “Dr. Armindo Mauk-Sun Guterres di atas patut diperdebatkan. Harus diingat bahwa tidak hanya CNRT yang mau memerintah lagi, tetapi PD juga sangat bernafsu untuk memerintah lagi meski belum tentu dapat memenangi atau menjadi kuda hitam dalam Pemilu 2012. Melihat konsolidasi yang CNRT dan Partai lain lakukan sangat gencar di Ermera dipastikan bahwa PD akan kehilangan dukungan di Ermera karena setelah katuas Fitun meninggal dunia, massa Ermera banyak yang terpencar termasuk Komandante Dudu yang mendukung Taur Matan Ruak menjadi Presiden Republik. Sedangkan di Suai melihat dukungan yang ada jelas antara Fretilin dan CNRT akan bersaing ketat. Maliana walaupun Arcangelo Leite berasal dari sana tetapi Maliana adalah basis CNRT. Sedangkan di bagian Baucau, Lospalos dan Viqueque dipastikan antara Fretilin dan CNRT karena PD di sana mati kutu. Bagaimana mungkin dikatakan bahwa PD akan mengalami peningkatan kursinya di Parlemen Nasional..? Menurut beberapa pihak bahwa PD kemungkinan besar akan kehilangan banyak suara karena suara itu pindah ke CNRT, PDN dan juga Fretilin. Indikasinya mulai terlihat dalam berbagai konsolidasi militante PD banyak yang mendeklarasikan diri untuk berafiliasi ke CNRT dan Fretilin. Bahkan di kalangan orang PD banyak yang mengatakan bahwa “ami membro PD nafatin maibe ami vota ba Maun Xanana lai”. Dr. “Mau-Sun” Guterres mengatakan PD akan menfasilitasi CNRT untuk membentuk sebuah pemerintahan karena ada kursi di Parlemen. Xanana dan CNRT sudah tahu betul para Menteri dan Sekretaris Negara dari PD selama ini. CNRT juga mungkin sudah kapok dengan isu-isu korupsi dan skandal lain dikaitkan dengan para Menteri dan Sekretaris Negara dari PD. Dan perbuatan pembangkangan PD terhadap  Xanana di parlemen tentang 200 juta USD dll untuk OGE 2012. Pada sebuah polling dilakukan di website CNRT sangat menarik. Dalam polling itu publik ditanyai, tuir itaboot, partido ida nebe mak diak liu ba CNRT hodi halo koaligasaun..? jawabannya adalah Hamrik Mesak (ukun mesak) 55,4 %, CNRT-PD 20,7 %, CNRT-Fretilin 19 %,  CNRT-ASDT 2,7 % dan CNRT-PSD 2.2 %. Olehnya opsi bagi CNRT sangat banyak bukan hanya PD saja. Jangan percaya diri dulu bung. Sampai di sini mari kita menuju pada gambaran calon Presiden Republik dari Partai Demokrat, Fernando Lasama de Araujo.

Fernando Lasama de Araujo, adalah tokoh muda yang memimpin Renetil di Indonesia pada zaman perjuangan. Renetil organisasi resistensi yang  berpengaruh di kalangan terpelajar di Indonesia karena memiliki jaringan di kalangan pemuda dan pelajar Timor Leste, juga jaringan di kalangan intelektual Indonesia. Pasca kemerdekaan Lasama bersama-sama dengan koleganya ex-anggota Renetil dan juga beberapa pihak ex-FPI CNRT mendirikan Partai Politik yang mereka beri nama Partido Demokratico. Menurut kabar bahwa pada awalnya mereka menginginkan Lucia Lobato menjadi Presiden Partai tetapi karena Lucia Lobato sendiri sudah di PSD sehingga mereka memilih Lasama memimpin partai politik tersebut. Lasama sedikit-demi sedikit karir politiknya mulai menanjak seteleh partainya mendapat 7 kursi di pemilihan umum 2002. Bahkan pada tahun 2007 partai politik yang dipimpin Lasama tersebut hanya meningkat satu kursi sehingga mereka mendapat 8 kursi di Parlemen Nacional. Namun Lasama gagal untuk menjadi Presiden Republik walaupun dalam kampanyenya pada saat itu menjanjikan supaya petisioner yang dipecat dari FALINTIL-FDTL untuk kembali ke FALINTIL-FDTL kalau dia menjadi Presiden Republik atau Comandante Supremo FALINTIL-FDTL. Gagal menjadi Presiden Republik Lasama malah sukses dipilih oleh AMP menjadi Presiden Parlemen Nasional selama lima tahun. Dalam kepemimpinan di Parlemen Nacional Lasama lumayan bagus. Walaupun banyak persoalan tidak terselesaikan.  Namun banyak pihak mulai melihat bahwa Lasama adalah tokoh muda yang di masa akan datang menjadi solusi alternatif bagi masyarakat Timor Leste. Namun demikian banyak kendala yang masih dihadapi Lasama kalau dia ingin mentransfer dirinya menjadi pemimpin masa depan. Yang saya fokuskan adalah Lasama harus bisa mentransfer dirinya bukan ditransfer oleh orang atau institusi lain. Seorang mantan anggota Renetil yang berada di Partai lain mengatakan bahwa “Lasama selama ini dibesarkan oleh Renetil dan PD tetapi dia tidak pernah atau belum pernah ia membesarkan dirinya sendiri”. Oleh karena itu, banyak faktor yang masih menjadi tantangan dan hambatan bagi Lasama agar bisa meraih Presiden Republik. Faktor-faktor tersebut sebagai berikut: 

1). Publik belum tahu visi dan misi Lasama bagi masa depan negara dan bangsa ini. Kalau kita memperhatikan pesan-pesan yang disampaikan oleh Lasama di Parlemen tampak tidak teratur dan tidak sistematik dan tanpa “kontiudo” yang jelas. Pesan yang tidak beraturan tersebut menunjukan tidak adanya visi dan misi yang hendak disampaikan oleh Lasama secara pribadi. Jika di bandingkan dengan Mariano Asanami Sabino maka sangat berbeda. Mariano memiliki visi dan misi yang jelas dan terfokus sedangkan Lasama kasihan sekali. Olehnya seperti dikatakan di atas, Lasama harus membesarkan dirinya dan mengtransfer diri dan visinya kepada publik bukan dibesarkan oleh institusi dan juga orang lain.

2). Hubungan Lasama dan FALINTIL-FDTL. Lasama adalah orang yang dalam kampanye pencalonan Presidennya tahun 2007 melakukan dua kesalahan besar terhadap FALINTIL-FDTL;pertama, menuduh FALINTIL-FDTL melakukan pembunuhan massal di Tasi Tolu. Yang kemudian setelah dilakukan investigasi oleh UN, pembunuhan massal yang dituduhkan oleh Lasama dan istrinya Jaquelin Aquino Siapno (orang Filipina) tidak terbukti. Artinya menfitnah FALINTIL-FDTL demi kepentingan politik regionalismenya. Kedua, menjanjikan kepada petisioner untuk kembali ke FALINTIL-FDTL jika dia terpilih menjadi Presiden Republik. Dua hal tersebut akan menghambat hubungan Lasama dan FALINTIL-FDTL kalau Lasama terpilih menjadi Komandan Supremo.  Banyak pihak yang meragukan hubungan Lasama dan FALINTIL-FDTL apalagi kini Chefe Estado Maior General Lere Anan Timor. Orang yang dulu dituduh diskriminatif oleh Lasama dan kelompoknya pada tahun 2007.  Lasama mesti perbaiki hubungan dengan FALINTIL-FDTL  kalau ingin menjadi Presiden Republik. Walaupun mungkin FALINTIL-FDTL sudah mengampuni Lasama dan istrinya Jaqueline Aquino Siapno.

3).  Lasama memiliki karakter yang kurang peka terhadap isu gender. Lasama sering terlibat dalam Violencia Domestika terhadap istrinya. Sampai istrinya, Jaqueline Aquino Siapno melarikan diri ke rumah Menteri Luar Negeri Zakarias Albano untuk sementara waktu karena tidak tahan siksaan yang dilakukan Lasama. Di Timor Leste terutama pemerintah AMP sekarang ini sedang gencar mendorong pengembangan dan pembangunan isu Gender dan mengurangi violencia domestika serta violasaun seksual. Sebaliknya Lasama justru memukuli istrinya sehingga di internet dipublikasikan secara gencar dan luas. Seorang lider jika dia sukses memimpin keluarganya maka dia akan sukses pula memimpin negaranya. Jika saat ini Lasama sedang dalam bui, Ramos-Horta sebagai Presiden tentu tidak akan memberikan indultu kepada Lasama karena terlibat dalam violência domestika. Kalau Lasama ingin menjadi Presiden Republik perbaiki atetudnya agar tidak mengulangi lagi violencia domestika. Asal Dr. Armindo “Mauk-Sun” Guterres dan pendukung Lasama lainnya tahu saja bahwa Taur Matan Ruak walaupun dari militer tetapi dia tidak pernah melakukan violencia domestik terhadap istrinya seperti apa yang Lasama lakukan selama ini.

 4). Alkohol dan Mabuk. Di Timor Leste banyak pengusaha yang memasukan minuman beralkohol untuk diperdagangkan ditambah lagi dengan “tua sabu” sehingga kekerasan yang sering terjadi juga disebabkan oleh alkohol. Tetapi yang menarik bahwa tidak hanya anak muda yang meminum alkohol tetapi menurut informasi yang beredar bahwa Lasama adalah seorang yang kecanduan alkohol tersebut. Bahkan Membru Guverno anterior mencerikan bahwa “dalam suatu kesempatan berkunjung ke Portugal Lasama meminum minuman keras lebih banyak sehingga mabuk dan muntah-muntah di acara resmi”. Saya berharap cerita ini tidak benar tetapi kalau ini benar maka sebaiknya perbaiki diri sebelum jadi Presiden Republik. 

5). Regionalisme dan Etnik. Lasama orang yang selama ini lebih mengutamakan dan secara diam-diam mendengungkan isu Loromunu dan Lorosae. Ketika para petisioner dipecat dari FALINTIL-FDTL Lasama dan Partai Demokratnya termasuk yang melakukan kampanye hitam dan mengutamakan superioritas Loromunu. Seorang pendukung Lasama dalam tulisannya untuk menanggapi tulisan Dr. Jose Maria Guterres mengatakan bahwa Lasama adalah Mambae Mayoritas dan Taur Matan Ruak adalah Naueti yang minoritas. Jelas sekali bahwa diskriminasi ada pada Lasama dan pendukungnya secara mengakar dan sudah menyatu dengan darah dan daging mereka. Dalam sebuah rekrutmen PNTL Lasama selalu memperhatikan kalangannya. Bahkan dalam sebuah seremoni di Ainaro baru-baru ini Lasama menyuruh Deputado TARA untuk memaksa orang Mambae untuk memilih Lasama padahal pada saat itu yang hadir adalah para Veteran untuk melakukan syukuran demobilisasi yang diorganisir oleh Xanana. Perintah Lasama terhadap Deputadu TARA adalah wajar karena di desanya sendiri Lasama dan Partai Demokrat tidak pernah menang, sehingga harus menggunakan isu etnik seperti mereka gunakan pada krisis 2006 lalu.

6). Operasaun Konjunto. Dalam situasi susah dan genting Lasama diberikan mandat oleh konstitusi untuk menjadi Presiden Republik. Lasama yang menandatangani dan memberikan komando untuk melakukan OPERASAUN KONJUNTO atau OPERASAUN HALIBUR. Hal ini diakui oleh Dr. Armindo “Mauk-Sun” Guterres (alumni UNTIM) sambil mengutip pernyataan Lasama dalam kongres PD baru-baru ini: “nudar estado de direito demokratico ita tenke atua tuir lei ho firmeza. La iha fatin e toleransia ba sira nebe mak viola lei no sira nebe mak uza violencia hanesan instrumento hodi atinzi sira nia objectivo. Tamba ida ne’e mak iha tinan 2008 wain hira hau assume kargo nudar Presidente da Republika interinu, atu defende dignidade e interese nacional estado e povo ida ne’e nian, ho firmeza, hau hamutuk ho orgaun soberano sira seluk, hola desizaun ida nebe ema barak kontra ho hakanek sidadaun balun nia fuan, maybe ami tenki hola duni, mak hari operasaun konjunto, PNTL-FFDTL, hodi normaliza no estabiliza hikas situasaun siguransa iha rai laran. Ida ne’e hatudu katak orgaun soberano sira Timor Leste nian laos halo esforso deit, maibe atua ho firme, solidu, no koezo hodi buka solusaun ba problema todan ne’ebe nasaun hasoru. Ita tenki konsiente katak dignidade no interese estado no povu nian aas liu kualker forsa politika ka lider politiku ida nian dignidade no interese”.

Akan tetapi pernyataan Lasama itu tidak jujur kalau tidak dilengkapi dengan cerita di bawah ini; dalam suatu kesempatan menurut sumber yang dapat dipercaya bahwa ketika Lasama sebagai Comandante Supremo telah memerintahkan Panglima F-FDTL saat itu, Taur Matan Ruak untukmenembaki para petisionerTempo ona para tiru deit kuando sira la fo ulun, kata Lasama. Tetapi perintah Lasama ini ditanggapi oleh Taur Matan Ruak bahwa “Sr. Presidente Republika, seidauk tempo para tiru tamba ita manan funu la’os tamba ita oho ema barak maibe tamba inimigu rende mas kilat la tarutu”. Mendengar jawaban ini Lasama terdiam. Seandainya perintah Lasama ini dilaksanakan oleh Taur sudah dipastikan bahwa banyak orang yang akan menjadi Korban Operasi Konjuntu, terutama di Ermera. Yang menarik bahwa mungkin Lasama adalah seorang demokrat sejati yang memerintahkan penembakan yang bisa berimplikasi kepada rakyat Ermera yang menjadi pendukung Partai Demokrat dalam pemilihan umum 2007. Atau mungkin ini jebakan buat F-FDTL supaya bisa dituduh lagi melakukan pembunuhan massal sebagaimana di Tasi Tolu. Untungnya Taur Matan Ruak tidak terjebak dalam perintah yang disampaikan Lasama pada sore itu dalam sebuah pertemuan.

7). Persoalan Korupsi dan Kolusi kendaraan Parlemen Nasional. Sebagai Presiden Parlemen Nasional, Lasama termasuk yang bertanggungjawab terhadap perubahan spesifikasi kendaraan anggota Parlemen Nasional dari Toyota ke Mitsubishi Pajero. Seandainya ini ditelusuri maka akan terkait dengan kepentingan kelompok yang Lasama pimpin selama ini, baik itu di dalam maupun yang sedang di luar-luar mencari proyek. Katanya kasus ini sedang di Precurador Geral. Kalau mau jadi Presiden Republik perbaiki dan bangun menejemen modern bukan menejemen aktivista.

8).  Kepercayaan Xanana. Dalam tulisan Dr. Armindo “Mauk-Sun” Guterres juga mengatakan bahwa Lasama adalah orang yang dekat dengan Xanana dan kehadiran Xanana di Kongres PD adalah indikasi dukungan secara tidak langsung kepada Lasama. Menurut saya, Xanana sulit diprediksi sehingga saya tidak tahu bahwa kehadirannya merupakan dukungan atau justru sebaliknya. Tetapi yang pasti adalah Xanana kecewa terhadap Partai Demokrat dan Lasama karena jelas-jelas mempermalukan Xanana di Parlemen Nasional pada siding OGE 2012. Lasama dan kelompoknya “vota kontra” terhadap anggaran 200 juta USD yang diprogramkan Xanana. Padahal dalam rapat konsolidasi di luar parlemen, sebelum debat anggaran di PN, katanya Xanana sudah menjelaskan kepada Lasama dan anggota Parlemen AMP. Tetapi lagi-lagi Lasama dan kelompoknya dengan aroganya menolak mentah-mentah program pemerintah 200 juta USD tersebut bahkan Lasama mengatakan Xanana seharusnya menjelaskan kepadanya kalau itu penting. Seorang teman yang dekat dengan Lasama tapi sudah tersingkir dalam Kongres PD Kedua kemarin menceritakan kepada saya bahwa pada krisis 2008 ketika Operasi Konjuntu juga Xanana marah besar kepada Lasama karena Lasama dan kelompoknya berstandar ganda.

9). Lasama dan Partainya walaupun mendatangkan massa yang lumayan banyak dalam Kongres keduanya bulan kemarin tetapi hal ini diragukan untuk memenangkan Lasama menjadi Presiden Republik. Hipotesis Dr. Armindo “Mauk Sun” Guterres bahwa kehadiran Xanana di kongres merupakan dukungan langsung atau tidak langsung terhadap Lasama adalah suatu harapan akan pentingnya Xanana bagi Lasama dan PD. Xanana memang memiliki hubungan yang baik dengan PD karena Xanana-lah yang mengorbankan uang dari sakunya untuk membersarkan PD ketika PD masih menjadi oposisi dan kere. Menurut sumber dalam PD sendiri mengatakan bahwa Chico Borlako dan Paul Assis sering mengunjungi Palacio das Cinsas membawa bornal untuk mengambil uang demi membiayai aktivitas PD saat itu. Tapi harus diakui bahwa PD sekarang sudah berbeda dengan PD yang dulu. PD sekarang adalah PD yang punya banyak uang. Uang dari Lasama, Mariano Asanami, Dominggos Caero, Marcus da Cruz, Arcangelo Leite, dan Florindo.  Dulu semua orang tahu, Menteri dan Sekretaris Negara dari PD yang berprofesi sebagai dosen kalau habis ngajar selalu meminta mahasiswanya untuk ngantar pulang karena belum punya kendaraan, tetapi sekarang…? Empat tahun yang lalu pada hari pertama mau dilantik sebagai anggota kabinet di pemerintahan AMP, ada anggota kabinet tertunjuk dari PD yang meminjam móbil orang dan naik motor untuk sampai pada tempat acara pelantikan, tetapi sekarang…?   Dimana KAK (Komisaun Anti-Korupsaun) melihat hal ini..? Apakah karena para Komisioner KAK adalah individu-individu dari Renetil maka sangat sulit bagi KAK untuk menjamah temannya sendiri..? KAK benar-benar kepanjangan dari “Kawan Amankan Kawan”…? Sesama Renetil akan sulit untuk saling “mencakar” karena sebelum menjadi anggota Renetil di Bali-Jawa diterapkan acara ritwal hemu-ran(minum darah) sebagai tanda sumpah setia sesama anggota Renetil…? Dan menyangkut dukungan Xanana, bagaimana mungkin Xanana suporta Lasama kalau Lasama sendiri tidak mampu rapatkan barisannya untuk mendukunnya. Para veteran berpengaruh seperti Dudu, Tuloda, Deker, Paul Assis, Maubere tidak mendukung Lasama untuk menjadi Presiden Republik pada 2012 meskipun mereka orang-orang PD.

Saya sepakat dengan Dr. Armindo “Mauk-Sun” Guterres bahwa pada akhirnya semuanya kembali kepada rakyat. Rakyatlah yang akan memilih dan memilih suara emas pada Pilihan Presiden 2012 akan datang. Pemimpin yang suka berdusta dan ngalor ngidul akan disinkirkan, pemimpin yang tidak bermoral akan dinistakan, pemimpin yang diskriminatif akan di nafikkan, pemimpin yang tidak memiliki visi akan disiasiakan, pemimpin yang korup akan dihukum, pemimpin yang irasional dengan isu etnik akan diabaikan. Akhirnya rakyat akan memilih pemimpin yang santun, bijak, mengayomi, merakyat, merangkul dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Introspeksilah sebelum menjadi Presiden Republik. Akhirnya saya berharap dan menunggu ada pendukung Lasama yang menanggapi tulisan ini agar dapat membuka mata dan telingga rakyat agar mereka tidak akan merasa memilih kucing dalam karung.
 
 
Ex-Mahasiswa UNTIM
Povo Aileba hela iha Comoro
Dili

Sunday, 22 November 2009

Despaxu Tribunál: Hamate Esperansa Família Vítima Krize Militár 2006 - Edisaun 165

Dili, Tempo Semanál
Edisaun 165 16 Nov 2009


 
Photo Lista PNTL sira mak hetan Akusasaun


Bazeia ba Rezolusaun númeru 3/2006 loron 22 Augusto husi 3 Governu no kontinua ho Rezolusaun foun Númeru 13/Dezembru 2007 husi 4 Governu RDTL nian hodi hari Komisaun Avaliasaun ba PNTL ne’ebé kompostu husi  Órgaun tolu, Paenel de Avaliasaun, Ekipas Téknika de Avaliasaun no Sekretáriu.

Husi lista 19 ne’ebé fó sai husi membru PNTL ho totál 15 ho konkluzaun Paenel de Avaliasaun konklui katak membrus PNTL ne’ebé iha ona lista ne’e la iha envolvimentu iha kazu ruma ka la komete infrasaun dixiplinárou kriminál ruma iha situasaun krize ne ’ebé hahú iha fulan Abríl, Maiu 2006.

Tanba ne’e Paenel de Avaliasaun hare katak iha nesesidade urjente atu hato’o ba Sekretáriu dó Estadu Seguransa no Órgaun sira seluk atu uza sira nia kompeténsia hodi deside, reativa membrus PNTL sira ne’ebé refere iha  lista ne’e, tuir normas Rezolusaun tuan númeru 3/2006 Augusto no retifika ho Rezolusaun foun Númeru 13/2007 11 Dezembru. Aleinde ne’e iha mós rekomendasaun katak Paenel de Avaliasaun mós rekomenda Inspetór, Sub-Inspetórs no Ajentes ne ’ebé liu ona avaliasaun ida ne’e, se karik loron ikus iha keixa, denunsia no inf ormasaun ruma husi sosiedade, Órgaun Soberania ka entidade seluk ruma, sei loke fila fali prosesu. Númeru tuan 3/2006 22 Augusto no retifika ho Rezolusaun foun númeru 13/2007 11 Dezembru.

Husi totál membrus PNTL 3.179 iha Timor la ran tomak husi totál ne ’e bé iha membrus 81 mak hetan prosesu iha Tribunais too agora. 3021 mak klarifika si ou klaru la iha problema. Maibé, iha membrus na’in 6 sei iha prosesu la ran no seidauk hatene lo loos inklui husi totál membru 81+6 =87 sei kompete ba Tribunál. Restu husi prosesu Avaliasaun tuir Paenel halai hamutuk ‘berkumpul’ kada semana 3 dala ida.

Atu hetan esplikasaun kle ’an kona ba kestaun hirak ne’e tuir mai Tempo Semanál iha loron Kuarta-feira (11/11) hala’o dada lia ho Xefe dó Sekretariadu da Komisaun da Avaliasaun da PNTL no Xefe Departamentu de Formasaun e Sensibilizasaun dos BOMBEIROS e Protesaun Sivíl Alípio José Vieira iha nia knaar fatin Kaikoli Rumbia-Dili.

Presiza hatene la’ós de’it ema ne’ebé iha pozisaun Governu nia laran atu bele hatene, maibé se bele karik komunidade sivíl no po pulasaun iha Timor laran tomak hodi bele hat ene prosesu avaliasaun ba PNTL hatene ona hahú de zde 4 Augusto 2006 iha prosesu inisiál atravesa pri meiru rezolusaun nú me ru 13/2006, ne’ebé kria Komisaun ida bolu Komisaun de Avaliasaun da PNTL ne’ebé inklui Órgaun 3 hanesan temi ona iha leten.

Husi Órgaun 3 ne’ebé refere iha ninia tarefa oi oin la hanesan inklui Sekretariadu ne’ebé nia hola parte ne’ebé rekolla informasaun dadus ho Rejis trasaun ba membrus sira halo karta pedidu ba iha Tribunais ba iha Prokuradór Jerál da Repúblika haruka inisia prosesu husu informasaun publika ema nia naran buat sira nia hotu iha Sekretariadu ninia responsabilidade.

“ita hala’o servisu ida ne’e Sekretariadu mós se para ho buat ne’ebé kondisoins mundu adves ‘sulit’ tebe-tebes, depois ita sei too iha ne’ebá, portantu funsaun espesífiku Sekretariadu nian, kuandu iha ekipa 2 seluk ne’ebé presiza informasaun ruma baze ba dadus atu buka informasaun no bolu membru PNTL atu bele klarifika iha ekipatéknika nia oin atu justifika buat ruma, portantu responsabilidade Sekretariadu nian,”aplika Alípio ho lian makas.

Inrelasaun ba kondenasaun hotu-hotu Sekretariadu iha podér atu hala’o servisu, i depois hakat ba sesaun II, ekipa té knika ne’e ‘mula-mula’ iha rezolusaun ida I iha 2006 hateten tenke iha Timor oan 1 ho Internasionál na’in 2 atu hala’o ekipa ida.Mais ekipa ne’e kompostu husi Timor oan na’in 10 Internasionál na’in 20 at u hala’o ekipa 10 katak, ka da ekipa Internasionál 2, Nasionál 1. Entretantu Internasionál delega sira na’in 20 sira labele konkretiza ho na’in 20 ne’e.

Entaun ekipa téknika ne’e hala’o kooperasaun ha mutuk atu bele tau mós Timor oan kona ba PNTL si ra nia dokumentu s husi k omunidade sivíl balun ma i husi duni Tribunais.

No balun mai husi ent id ade s Governu nian, por ta ntu keixa mai husi fatin oioin balun mai husi Pro fi sionalizmu Estandard no Étika Deontolojia (PSDO) ne’ebé toma konta Polisia ninia prosesu.

Adveses dokumentu s hirak ne’e hotu, faktu s sira ne’ebé hetan ekipa buat hi rak ne’e hotu husi téknika analiza idak-idak kada ema ho ninia prosesu. Pur e z e mplu PNTL nia prosesu ne’e nia labele hateten na ran tanba iha devér.

Entaun prosesu ba kada membru Polisia hotu tenke analiza, la’ós buat fasil atu analiza dokumentus ne’ebé ho 12 ou 13 sentimus ou despara sura atraves dokumentus ida ne’e.

Ekipa téknika sira halo rekomendasaun entaun sira rekomenda ba iha Pa enel sira halo tiha ona iha 2007 ba 2008 ekipa ték ni ka la hala’o ona servisu tanba sira ninia prosesu hotu ona.

Agora hala’o prosesu foti dadus keixa la’ós buat ida  komplikadu katak, hela de’it simu informasaun rejista. Portantu ida ne’e la’ ós komplikadu hotu ona sesaun III ninia funsaun mak todan tebe-tebes.

“ita bolu Paenel de Avaliasaun ida ne’e kompostu husi Juis no Prokuradór sira, hanesan Sr. Eis Vise PGR Ivo Valente mais agora la’o s ona Prokuradór, mais dezde momentu nia sei Prokuradór nia kontinua nafatin tanba Governu fó fiar ba nia atu sai hanesan Presidente Paenel Avaliasaun nian kompostu husi ‘CEC’ no husi membru Presidente da Repúblika destaka husi Konsellu Superiór de Seguransa husi Gabinete PR,” subliña Xefe Sekretáriu da Komisaun Avaliasaun PNTL ne’e.

Portantu sira iha dir eitu, nia mós hatudu ezemplu katak membru Paenel sira mak halo rekomendasaun no faze finál. Depois Sekretariadu ninia funsaun kanaliza tuir desizaun ou rekomendasaun ne’ ebé iha.

Tuir rekomendasaun ne’ ebé Paenel fó ema na’in 5 n e’ebé iha direitu votu ba desizaun no direitu ba rekomendasaun. Iha membru na’in 5 seluk ne’ebé hola parte iha Paenel, mais sira la iha direitu ba votu no atu emite sira nia opiniaun sira mai hanesan observadór.

UNMIT

Ninia Direitus Umanus iha sesaun oioin ho ema na’in 5 ne’ebé reprezenta iha Painél hodi hare no akompaña hamutuk ema na’in 10, mais na’in 5 mak foti desizaun. Agora ba prosesu hanesan ema hotu hatene katak, Paenel fó rekomendasaun iha oin 4.

Rekomendasaun I bainhira Paenel rekomenda membru ne’e kuandu la iha problema, nia bele reintrega ba Polisia sein problema entaun tuir ida ne ’ e bé sira fó ba Paenel atu analiza. Kuandu rekomendasaun husi Paenel Avaliasaun membru Paenel iha ona rekomendasaun ba membru Polisia balun atu pasa ba Sekretariadu redije formatu ida ho sira nia na ran no ID.

Kuandu sira na’in 5 as in a tiha depois seidauk hotu tenke liu iha Sekretariadu Estadu atu nia asinatura finál bele publika, kuandu asina ona haruka publika iha fatin-fatin ba entidade ne’ebé hanesan Polisia, UNPOL hodi hate ne ezemplu ida ne’ebé liu. Kazu primeiru liu kuandu membru ne’e nia dadus tama seidauk sufisiente atu prova sira nia sala, ma is iha akuzasaun, maibé iha duvida loos ka laloos haruka ba iha fatin ida kuandu prova la too.

Entaun Paenel fó sus pende lai dokumentu hodi hein provas ne’e sei husu ba iha entidade sira iha Tribunál relasiona ho ema ida ne’e atu bele hatene iha keixa ruma hasuru nia.

Prosesu ne’e membru ida la dun hodi hein dokumentu seluk, kategoria II no III, kuandu nia iha problema, entaun la’o s Komisaun nia kompeténsia atu julga, kompeténsia eskluzvu Tribunál nian, ida ne’e labele viola.

Naran ne’ebé Sekretariadu publika la iha problema ne’e kazu primeiru ne ’ebé la iha problema sai iha lista. Hodi nune’e Sekretariadu asina no membru Paenel sira asina no publika.

Signifika sira livre la iha tan problema no kategoria II, sira nia surat ne ’e Paenel analiza mais falta buat ruma entaun Pae nel ‘pending’ hela, hodi hein tan buat ruma atu kompletu ba faze III, sira hatene duni sira nia prova konkreta entaun sira PGR mak sei bolu.

Tanba Paenel la iha kompeténsia atu julga sira, so iha kompeténsia rekomenda atu julga ema entaun tenke iha eskluzivu no Tribunál de’it mak julga. Iha oportunidade ne’e mós nia foti ezemplu kona ba Lino da Silva Saldanha ho Ismael da Costa Babo.

Ne’ebé mosu insidente 8 Maiu 2006 iha Ermera hodi nune’e halakon vida membru PNTL Palmeiru Lacerda da Costa husi Unidade Intervensaun Rápida (UIR). No asidente 25 Maiu 2006 iha Ministériu Públiku nia oin ne’ebé hamate membru PNTL na’in 8 tanba tuir informasaun Lino Saldanha mak lori membru Falintil-FDTL ba tiru mate ema hirak ne ’e ho liman mamuk.

Maski nune’e nia hateten informasaun hirak ne’e sai hanesan rumoris de’it tanba la iha evidénsia forte atu akuza ema hirak ne’e iha Tribunál no la iha evidénsia ne’ebé ‘bersifat tan gkap basah,’ bainhira ema ne’e ‘sedang’ halo hela buat ruma.

Parte seluk nia mós hatudu kona ba surat des paxu husi Tribunál Distritál Dili inkéritu númeru 314/PDD/2006 ho nia kon teúdu katak, ante as razoins postas no requireimentu do Ministériu Públiku, acolho-o e, para os fins do artigo 59,2,a,e do artigo 217, ambos do codigo de prosesu Penál, determino a detencao pes so as de nome Manuel, Maupanu, Deinizio, José Budiman, Rosalino, Joanico (Mario), Augusto Marcelino, Eduardo, José Daris, Bartolomeu, Jaimito, Carlitos Lemos, Cipriano, Augusto Mauku, Luis Madeira, Evaristo, Tomás Lemo s e Júlio, rezidensiál em Gleno. Expecam-se ma n dados de detencao. Dili, 11 de Maio 2006 Dora A. Juiza Internacional. Husi buat hirak ne’e hotu nia nu ’udar sidadaun ida katak, ema hotu hatene TL Nasaun adopta direitu demokrátiku sistemada no konsidera tenke iha Justisa nia oin ema hotu hanesan. Entaun ema ida mós la bele kondenadu ‘tanpa bukti,’ kuandu ema ne’e halo duni entaun nia iha kulpa. Depois kondena ema la’ós akuza ema, otomatikamente ema ne’e sala akuza ema ida tenke iha prova no faktus, sera ke nia halo duni krime ida rezulta ba asaun ida ne’ebé halo iha duni rezultadu.

Komprova mais la’ós kom prova atraves de Tribunál fó nia sala ne’e prontu hatene ona. Nia kompara kona ba Lino Saldanha nia filé iha sira nia Paenel, hare la iha komprovasaun ida ne’ebé forte atu akuza ema ne’e.

Maski nune’eIsmael Babo iha duni akuzasaun tama too Tribunál sira fó sai nia naran mais atraves de Tribunál fó sai katak, nia ‘bebas’ komprova nia la sala desizaun Tribunál ne’e absolutu labele viola.

Família Vítima Prontu Halo Rekursu


Familia Vitimas - Kaikoli
Tuir fontes husi família vítima Mate Bian Palmeiru Lacerda da Costa husi inan hakiak Mariana Florinda da Costa, iha nia residensia dalan Remack, Sábadu 14 Novembru hateten, nia sente triste bainhira rona informasaun husi Sr. Ida ho naran Armando fó hateten, prosesu julgamentu ba Tribunál sira hala’o tiha ona. Hodi nune’e nia sente ‘kecewa’ tebe-tebes tanba saida la bolu família vítima sira partisipa hodi nune’e bele fó mós ideias no opiniaun ruma.

Tanba momentu hala’o julgamentu ha nesan família vítima la inklui atu hato’o keixa ruma, entaun agora nia koko halibur malun ho família uma laran mais ou menus halo rekomendasaun ba Tribunál refew hikas kazu ne’e tanba la justu no transparénsia.

“ami presiza fó mós opiniaun, maibé agora la fó hatene ami oinsá ami bele hatene la bele dehan iha prosesu investigasaun ne’e loos hotu ona, maibé presiza mós konvida ami mak loos, se imi la konvida ami ne’e oinsá, agora ita boot sira mak tenke foti fali prosesu ne’e hodi loke foun fila fali prosesu ne’e,”kestiona inan hakiak Mate Bian Palmeiru.

Maski iha momentu ne ’ebá nia ba duni iha Ministériu Públiku fó tiha nia naran too agora seidauk tel efone nia hodi buka pros esu ne’e no bazeia ba ida ne’e sira bele loke fali prosesu ne’e, maibé too agora husi parte MP seidauk telefone.

“ha’u komesa ba iha fulan Maiu too agora la iha rezultadu no la kontaktu ami, tan ne’e, ha’u nia la ran moras tanba sira halo prosesu julgamentu ne’e la fó hateten ami hanesan família vítima,”relembra Mariana.

Nia hatutan hodi dehan sira atu levanta prosesu ne’e tenke bazeia ba kazu ne’ebé akontese ne’e atu bele tuir duni prosesu ne’e. Ne’e duni nia sei hein na fatin hodi kontinua loke fali kazu ne’e, tanba Justisa ne’e tenke iha no nusa mak tenke hamosu fali ida ne’e. Nia kolia ho nakonu ho per gunta no duvida s tan ba saida Sr. Ejídiu de Jesus iha momentu ne’ebá ba kaer kargu nu’udar Sekr et ár iu Estadu Rejiaun III ba hala’o diálogu iha Ermera, i depois Seguransa sira ba ema tolu tiha farda no dezarma tiha kilat depois oho. Ida ne’e tuir nia nu ’u dar inan hakiak husi Palmeiru hahalok ida ke la ‘masuk akal.’

Tanbasá mak sira ezije atu Polisia tenke ba Ermera no sira rasik hatene tiha ona katak situasaun iha ne’ebá la dun di’ak tiha ona. Entaun nia laran moras liu mak sira haruka ha sai hotu farda no entrega kilat depois sira mai oho, ida ne’e mak too agora nia la simu.

Agora hetan tiha ona Ukun Rasik An ou Independénsia, maibé ema sei mate nafatin ho objetivu saida, despaxu husi Tribunál hanesan hamate esperansa husi família vítima no vontade hodi nun e’e hakarak hato’o pergunta ne’e ba ukun na’in sira.

Iha parte seluk nu’udar feen kaben husi Paulo da Costa ho naran Marselina Ximenes, iha residensia eis BTN Bekora, nu’udar povu ki’ik sai hanesan ‘bengkel’ ou ofisina ne’ebé ha la’o servisu hanesan soldadór atu solda metin kadeira ba boot sira hodi tuur ba. Bainhira tuur sira halis ba loos no karuk mamar hela de’it. Maibé, keta haluha tanba ohin loron ema hotu goza ne’e liu husi sofrementu povu ki’ik.

Entaun nu’udar família vítima husi la’en ne’ebé ma te iha Ministériu Públiku nia oin, ida ne’e hatudu manobra no estratéjia husi boot sira nian. Ikus mai sa’e karreta luxu no goza bu at oioin, tau sees tiha Justisa ba kotuk la hatene povu sofre tanba sira ninia hahalok tanba hakarak hadau malun atu hetan kadeira.

Maski rezultadu husi Paenel de Avaliasaun da PNTL fó sai katak, ema ne’e be sai hanesan ‘pelaku’ ba buat hirak ne’e hotu tanba la iha evidénsia forte atu akuza sira entaun sira ‘bebas murni’ tanba desizaun Tribunál absolutu ‘mutlak tanpa diganggu-gugat oleh siapun.’

Maski, realidade ‘membuktikan’ katak, ema mate tanba sira mak nu’ udar ‘pimpinan’ iha momentu ne’ebá. Tanbasá mak as idente 25 Maiu 2006 ema ne’ebé ho liman mamuk hetan tiru.

Nia mós kestiona katak, labele Justisa la’o de’it ba ema ki’ik ne’ebé halo sala hetan kondena Prizaun  tinan ba tinan, ba boot sira maski iha salan maibé tanba sira iha Imunidade ‘kebal Hukum’ sira labele hetan detensaun iha Tribunál. Tuir Lei Tribunál iha simblu ho dasin ‘timb angan’ ne’ebé signifika labele todan ba sorin loos ou karuk tenke tetu hanesan atu nune’e Lei labele halai de’it ba ema ki’ik mak hulan, maibé boot mós tenke kumpre sira nia salan iha Tribunál, ida ne’e mak povu nia hakarak.

Ho lian Melayu katak, ‘biarkaya dan miskin dimata Hukum semua sama’ no la iha ema ida mak ‘bertender diatas Hukum.’ Ida ne ’e mak valór husi Ukun Rasik An. Mai,”ita hotu tenke ‘tegakkan peraturan dan perundang-undangan di muka kulit bumi Pertiwi Timor-Leste ini dengan seadil-adilnya dan sebijak-bijaknya,’ne’e mak lia me non husi faluk hirak ne’ebé agora triste no halerik hela tanba la’en kaben agora la iha nia sorin no oan sira ne ’ebé presiza duni prezensa husi sira nia aman atu ‘mengasuh sira ba futuru, tanba krize militár 2006 tenke ema barak soe hela in an-aman, oan no feen kaben moris mesak tanba ‘ulah dan pembesar di negeri ini.

Hataan perguntas kona ba desizaun husi Tribunál fó livre ba ema na’in sanulu resin lima (15), indika envolve iha laran. Tanba la iha evidénsia ida keforte hodi nune’e fó livre ba sira.

Nia hataan katak, ne’e la bele tanba ema ne’ebé envolve mak fó livre de’it ne’e,”ita nia rai atu la’o ba oin difisil tanba ita oho malun arbiru de’it no la iha Lei ida atu kondena ita, maibé sira hakarak oho malun la iha Lei ida atu kondena ita, entaun ema se mak la hatene oho malu.Tan ne’e Lei ida tenke iha hodi kondena ita, mais oinsá mak ohin loron la iha Lei ida atu kondena buat hirak ne’e. Tanba ne’e ha’u husu ba Governu atu kondena makas ba autór kriminozu sira ,” realsa Marselina(ts)