Sunday, 18 September 2011

Kepentingan politik asing dapat mengancam stabilitas keamanan Nasiona

OPINI By Tama Laka AQUITA


Mengamati konstelasi politik di Timor-Leste menjelang pemilihan presiden dan pemilihan legislative 2012 mendatang dengan berbagai isu-isu politik yang berkembang  dalam masyarakat membuat ketakutan akan mempengaruhi stabilitas keamanan dalam negeri, dengan adanya berbagai kepentingan politik dan ekonomi baik dari dalam maupun dari luar negeri.


Dengan begitu banyak persoalan yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat dengan adanya indikasi korupsi kolusi dan nepotisme, yang merajalelah diberbagai instansi pemerintahan AMP, yang  saat ini telah menjadi bahan cerita dalam masyarakat. Demikian juga persoalan negosiasi minyak dan gas yang mengarah ke penarikan pipeline dari “Greater Sunrise” ke Timor-Leste serta bebarapa produk hukum yang diajukan oleh pemerintahan pertama yang diskriminatif dalam membangun kehidupan ekonimi rakyat, yaitu; persoalan undang-undang perburuhan dan undang-undang santunan seumur hidup.

Semua persoalan itu akan menguji kedewasaan dan kesadaran politik kepemimpinan politik bangsa kita dan menguji patriotisme dan nasionalisme para pemimpin dan pengambil kebijakan  dalam hal membela kepentingan nasional bangsa. Dengan begitu banyak partai politik yang akan mengikuti pemilu 2012 mendatang, kepemimpinan politik partai akan diuji dalam penyelengaraan kampanye politik pemilu 2012 ketika mereka menyampaikan pidato politik mereka dalam mencari solusi bagi setiap persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini persoalan social masyarakat.

Tahun 2012 merupakan periode yang sangat menentukan bagi stabilitas keamanan dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan Negara dengan berakhirnya misi UNMIT dalam campurtangan stabilitas keamanan nasional. Dalam hal ini secara politis rakyat telah diuji oleh berbagai permasalah baik itu  pertikain elit partai politik yang ada, dan kesadaran berpolitik demi mempertahankan partai masing-masing tampa mempertimbangkan kepentingan bersama.  Sepanjang dua periode rakyat telah diuji dalam pemilu yang lalu antara 2002 dan 2007. Untuk menjamin perdamaian dan stabilitas keamanan dalam negeri maka pemimpin partai politik dituntut untuk mematuhi aturan-aturan hukum yang telah diatur dalam konstitusi RDTL tentang Pemilihan Umum dan para pemimpin harus memahami fungsi dan tujuan  organisasi partai politik itu sendiri.

Namun stabilitas keamanan dalam negeri bukan saja dilhat dari kedewasaan berpolitik dalam kepemimpinan partai, akan tetapi harus didasari oleh landasan dan pijakan organisasi partai itu sendiri secara riil.  Demikian juga stabilitas keamanan nasional dapat terpengaruhi oleh konspirasi terselubung dari kepentingan politik asing, salah satunya adalah menyangkut proses negosiasi minyak dan gas “Greater Sun Rise “. Selain persoalan-persoalan tersebut diatas persoalan pengangguran di Negara kita memcapai tingkat dimana pengangguran itu bukan saja orang-orang yang tidak sekolah atau tidak mampu sekolah melainkan sarjana sekali pun sampai saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan yang tetap. Persoalan ini yang akan menjadi persoalan social dan ancaman yang sangat dasyat dan dapat mempengaruhi ketidak-stabilan keamanan dalam negeri.

Oleh karena kepentingan politik asing dalam konstelasi politik nasional begitu  menjadi primadona dan prioritas yang seakan-akan kepentingan asing menjadi keutamaan kepentingan asing itu sendiri ketimbang kepentingan nasional secara menyeluruh. Selain itu, adanya pembagian kue pembangunan yang controversial antara pelaku sejarah dan saksi sejarah dalam pemenuhan kepentingan nasional  dengan jargon-jargon stabilidade nasional, padahal kalau dicermati secara kasat mata kepentingan nasional tidak mutlak dan atau menjadi harga mati bagi kepentingan luar negeri apalagi untuk kepentingan asing dalam berbagai kebijakan nasional.

Alasan-alasan lain yang  selalu sering  diungkapkan oleh pemimpin negeri ini seakan menjadi harga mati demi kepentingan nasional itu sendiri, tanpa disadari bahwa sesungguhnya kepentingan luar negeri adalah untk kepentingan luar negeri itu sendiri, bukan dibalut dengan alasan-alasan kepentingan nasional demi mewujudkan tujuan dan kepentigan luar negeri. Kepentingan nasional adalah penting dan tanpa kompromis, karena keutuhan dan unidade nasional serta demi kesejahteraan dalam pemerataan  dan kemakmuran yang berkeadilan menjadi satu-satunya perekat kepentingan nasional, tanpa itu maka tidak akan ada dan bahkan tidak akan termimpikan dalam perjuangan pencapain kemerdekaan nasional secara utuh  dan lengkap berdasarkan cita-cita bersama dalam perjuangan kemerdekan nasional.

Namun kenyatan kini menjadi sebuah isapan jempol semata, akibat dari ketidak konsistennya para pemimpin negri dari awal dimulainya tabung revolusi sampai saat ini, tidak adanya persatuan dan kesepahaman konsep “kaer kuda talin rasik” diantara para actor pembebasan nasional ibarat punggung merindukan bulan. Hal ini muncul akibat dari pertikaian yang sebenarnya tidak perlu terjadi kalau para pemimpin negeri ini mau dan iklas mengakui kelebihan dan kekurangan masing-masing dan meniggalkan  rasa egoisme dan arogansi diantara satu dengan yang lain demi kepentingan nasional yang seutuhnya, maka apalah jadinya negeri buaya dalam kisah cerita sejarah negeri ini? Apalah jadinya negeri ini kalau semua penghuni dan pemimpin negeri ini saling memahami dalam konteks “ita mesak ida deik na’an ida deik”  seperti kisah dalam sejarah jauh sebelum negeri ini dijajah oleh bangsa portugis dan dianeksasi oleh bangsa imperilaisme Javanese.

Semuanya kini seakan menjadi kisah cerita potongan-potongan dari kitab sejarah yang hilang terbakar akibat  pembumi-hanggusan oleh milisi sejak awal-mulainya invasi sampai akhir penarikan milisi dan pasukan dari negeri ini, ketika tahun pembebasan nasionalnya dikumandangkan, sehingga potongan sejarah negeri pun seakan mejadi pendek dan seukuran sisa potongan kuku para manipulator dan para pengkianatan terhadap pelaku dan saksi serta kisah sejarah itu sendiri. Seperti kebanyakan teori mengatakan dan menunjukan kepada kita bahwa sejarah adalah aksi sebuah bangsa yang tidak boleh mati, namun apa yang terjadi dengan sejarah negeri ini? Bukankah sejarah adalah bagian aksi bangsa dan negeri ini yang tidak boleh dimatikan oleh siapapun apalagi oleh bangsa lain! Lalu kenapa kaum bangsa sendiri meniadakan aksi sejarah bangsa ini, dan seakan sejarah diri dan kaumnya lebih baik dan bermakna ketimbang yang lain? Bukankah negeri ini didirikan diatas tengkorak para Heroi? Tidakkah negeri ini dibangun diatas lautan air mata dan kubikan darah para pejuangnya? Ataukah karena negeri ini adalah negeri gagal  menurut konsep orang asing yang buas? Ataukah demikian karena negeri ini hanyalah sekilas kisah sejarah negeri buaya dalam  kisah cerita sejarah Timor leste?  

Penulis sengaja membiarkan pertanyaan diatas kepada kita semua, untuk menghayati dan menyadari bahwa stabilitas keamanan Negara kita ada ditangan kita segenap komponen bangsa. Untuk dapat memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut diatas sesuai dengan hati nurani kita. Agar ketika dikemudian hari kita menghadapi setiap persoalan yang muncul, dengan sengaja atau tidak sengaja, atau ketika kita menghadapi setiap persoalan muncul dari hasil operasi konspiratif terselubung dari kekuatan operasi intelegen asing tidak dengan muda terpengaruhi oleh hasutan-hasutan yang mengarah ke ketidakstabilan keamanan Nasional. Saatnya kita harus merenungkan kembali setiap persoalan yang telah kita hadapi selama mengisi kemerdekaan, saatnya kita harus bersatu dalam Unidade, Accao, Progresso e Igualidade sebagai landasan ideologis Negara. 

3 comments:

Alvaro Gómez Castro said...

Hi, I have been visiting your blog. ¡Congratulations for your work! I invite you to visit my blog about literature, philosophy and films:
http://alvarogomezcastro.over-blog.es

Greetings from Santa Marta, Colombia

Bali Hotels said...

great post . . .^_^

Anonymous said...

MARI ALKATIRI HAKARAK SELU EMA INDONESIA NIA SASAN TANBA NIA FETON SIRA MOS SASAN LAKON BARAK, MASKI AGORA HELA IHA INDONESIA

Mari Alkatiri iha nia intervista ho diário ponto final Macau – Outubro 17, 2011, hatete katak nia mak sei Primeiro Ministro sei fo atensaun makaas ba selu Indonézio sira nia propriedades nebe uluk hosik iha 1999. “Naturalmente que ainda temos questões pendentes, como o património dos cidadãos indonésios em Timor-Leste… Não temos problemas [em fazê-lo], não passa de cinco ou seis milhões de dólares. Resolvia-se.”

Lia fuan ida ne hasai tanba Mari Alkatiri nia feton sira kaben hotu ema Indonezia no agora moris iha Kupang ho Jawa. Nune mos nia primo sira lobuk ida nebe uluk partisipa iha milisia pro-autonomia hanesan Maharus Alkatiri, Bader Alkatiri (primo ida) ho Saleh Alkatiri ho seluk tan agora hela hotu iha Indonesia.

Sira barak mak agora uma iha Timor no fo aluga hela ba ema estrangeiros, maibe sira hela hotu iha Indonesia.

Mari Alkatiri nia feton sira hotu kedas kaben ho ema Indonesia. Nia kunhadu sira ne mos uluk lori sira nia familia sira mai hotu Timor no serbisu iha ne, tanba ne sira mos sei hetan hotu kompensasaun hosi governo Timor no iha direito ba ossan governo nian, karik Mari Alkatiri kaer ukun.

Ironia boot tebes, tanba sa mak Mari Alkatiri bele halo nune?

Nia defende tebes povo Timor ka, nia defende nia aan ho nia familia?